Wednesday, January 21, 2015

Angin malam menghantamku tanpa ampun sedari tadi. Namun aku hanya dapat diam memandangi langit malam yang berat digelayuti awan hitam. Ya. memandangimu dari jauh.

Kamu tampak mendung menjauh bergerak mengikuti angin malam itu
Aku terduduk menantimu jauuuuuuuuuh di tanah kering bumi yang rasa-rasanya mengharap-harap hadirnya rintikan hujan sedari tadi. Menantikan bulir-bulir keberkahan dari langit yang kuharapkan setidaknya mendekatkan jauhnya jarak antara kau dan aku.
Namun sudah puluhan ratusan hingga ribuan detik rasanya ku menanti hujan malam itu tapi ternyata hujan tak kunjung tiba ke bumi ku
Tanpa kabar berita dari sang rembulan, tanpa ada pesan dari kunang-kunang yang berbisik atau tanpa cerita yang biasa kau titipkan melalui embun keesokan harinya? mengapa sepi? mengapa sunyi? Kau tak biasanya begini? 
Sadarkah kita begitu jauh sekarang?! sadarkah betapa jauhnya kau menjauh dariku sekarang? Saat ini rasanya mendekat padamu justru menyesakkan. Mengapa justru di januariku kau semendung itu? diam, bergerak menjauh terbawa angin, berawan hitam, memendam guntur. Ah kau! kenapa?!
Baiklah, Apalah aku ini hanya bumi yang hanya bisa menanti dari jauh kabar dari langit. Mungkin aku ditakdirkan untuk menanti. Sabar menanti dan terus memperpanjang kesabaranku menanti. Hingga Allah menakdirkan kapan waktunya langit berkabar. Di waktu yang terbaik. Di saat terbaik, dengan diiringi takdir-takdir baik lainnya pula.
Apa kabarmu langit? Segeralah berkabar. Ku nanti kau disini, jauuuuuhh memang, tanah bumi. Tapi sejauh apapun aku, aku senantiasa memandangimu setiap malam. Aku disini menyunggingkan senyum di gelapnya malam, sengaja. Agar ketika tetiba bulir hangat jatuh dari sudut gelap mataku tak terlihat olehmu. Biarlah ia menderas, melegakan hatiku yang jenuh menanti. Ah apalah aku ini. Biarlah kunanti kau disini saja agar kau mudah menujuku saat nanti langit berkabar.

Bandung, 21 Januari 2015


Salam,

Senja Januari

Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates & MyBloggerThemes