Hanya cerita sesama pejuang tiroid. Kanker tiroid dan gangguan tiroid lainnya. Jangan kalah jangan menyerah Keputusasaan yang mengalahkanmu Bukan KANKER!

Sunday, March 27, 2016

Setelah di vonis KANKER, lalu apa?

Sesaat setelah divonis kanker, lalu harus apa?

Mungkin itulah yang akan terbesit pertama kali setelah vonis KANKER dijatuhkan. Stres, tidak fokus, dunia terasa luluh lantah, tidak percaya rasanya mimpi hingga depresi berat. Ah itulah yang biasanya dirasa oleh kebanyakan orang. Jika saya pribadi rasanya seperti mimpi. Percaya tidak percaya. Karena memang riwayat kesehatan yang selama ini hampir selalu baik tanpa pernah ada riwayat dengan penyakit berbahaya.

Wajar kok, kanker bukanlah penyakit ringan saya akui. Namun sejujurnya kanker bukanlah aib, so be strong. Apa sih yang harus dilakukan setelah menerima vonis KANKER. Saya akan berbagi tips dari buku inspirasional karya mbak Tri Wahyuni Zuhri yang berjudul “KANKER BUKAN AKHIR DUNIA”

1.  Hadapi kenyataan dan yakin bisa menjalaninya
Sejatinya, tak ada yang benar-benar rela menerima vonis kanker pada awalnya. Tapi tak mungkin juga kan kita hanya berpangku tangan mendiamkan penyakit itu menggrogoti tubuh kita lalu menunggu keajaiban datang. Maka, Bangkitlah. Yakinkan dalam diri, bahwa diri ini kuat, jiwa ini kuat dan Allah akan senantiasa menguatkan hamba-Nya. Karena prasangka baik, sugesti baik serta pikiran positif akan sangat menolong. Bukankah stress juga pemicu tumbuh kembangnya kanker? So, just smile and face it!

2.  Bicarakan dengan orang terdekat
Tidak semua permasalahan dapat dihadapi sendirian. Saya akui hal ini. Apalagi seorang perempuan yang notabene butuh “telinga” untuk mendengarkan ceritanya, butuh sandaran untuk menyandarkan segala resahnya, butuh penguat di kala takut datang menyergap ketangguhannya. Dia tetaplah seorang perempuan.
      Walaupun tentunya tidak sembarangan begitu saja diumbar-umbar diceritakan pada sembarang orang apalagi di momen tak tepat. Terbukti karena nyatanya tak semua orang mampu menerima apa yang divoniskan pada kita, kebanyakan orang pasti akan terkejut dan bahkan seakan tak percaya. Banyak diantaranya yang tak mendukung ikhtiar pengobatan yang akan kita jalani serta memberi opsi-opsi lain. Membingungkan? Pasti. Maka pilihlah orang yang tepat agar ikut memberi dukungan. Kalau saya lebih memilih orang tua serta sahabat terdekat. Orang lain cukuplah tau kita kuat menghadapinya agar mereka tidak terbawa perasaan.

3.  Konsultasikan dengan Dokter
Sebaiknya ketika kita telah merasakan gejala-gejala tumbuhnya kanker, segera konsultasikan pada dokter yang sesuai bidangnya. Karena saya mengalami sendiri awal periksa ke dokter umum beliau tidak mendiagnosa apapun malah hanya diberi vitamin hehe. Mungkin karena saat itu benjolan masih sangat kecil belum berdampak pada tubuh seperti nyeri, demam dan gejala lainnya. Oiya mbak yuni memberikan informasi terkait dokter yang menangani kanker :
  1.  Dokter spesialis bedah onkologi (ahli bedah kanker)
  2. Dokter spesialis hematology onkolog (ahli pembuluh darah dan kanker)
  3.  Dokter spesialis radiolog onkolog (ahli terapi sinar dan kanker)

Seandainya di daerah tempat tinggal tidak ada dokter yang sesuai, maka bisa dikonsultasikan ke dokter berikut:
  1. Dokter spesialis kandungan untuk menangani masalah oada organ reproduksi dan Rahim perempuan
  2. Dokter spesialis THT untuk menangani masalah pada mulut, lidah serta tenggorokan
  3. Dokter spesialis penyakit dalam atau internist untuk menangani masalah organ dalam seperti hati, ginjal, dan paru-paru
  4. Dokter spesialis saraf dan pembuluh darah untuk menangani masalah pada darah, tulang, saraf dan otak
  5. Dokter spesialis anak untuk menangani masalah untuk anak-anak

Ada baiknya kita mengetahui perkembangan kanker di tubuh kita sejelas-jelasnya, sudah sampai stadium berapa. Karena pada stadium awal tentu akan lebih mudah lagi di sembuhkan

4.  Lakukan pengobatan yang sesuai

Tentunya pengobatan kanker stadium pertama dan stadium lanjut berbeda maka pilihlah pengobatan yang sesuai. Ketahui tahap-tahap penyembuhannya dengan jelas. Misalnya ketika dulu saya divonis kanker tiroid. Setelah operasi pengangkatan seluruh tiroid saya tidak menjalani kemoterapi sebagaimana kanker lain namun saya menjalani yang namanya ablasi (terapi radiasi) untuk membersihkan sisa-sisa akar kanker yang tidak bersih ikut terangkat dengan pembedahan. Tahapan semacam ini tentunya tidak saya dapatkan begitu saja dari dokter. Saya kala itu meminta banyak second opinion dari dokter lain, bertanya-tanya pada sesama pasien juga. Tentunya aktiflah bertanya.

Oiya pesan dokter onkologi saya dalam pengobatan kanker adalah konsisten. Maksudnya jangan mencampurkan metode medis dengan herbal misalnya. Jadi kalau mau pakai metode medis (kedokteran) ya ikuti sampai akhir tahapnya jangan setengah-setengah. Misalnya karena terpengaruh bisik-bisik orang yang menggunakan herbal ketika dia fase pengobatan medis di rumah sakit tiba-tiba tak pernah lagi cek ke dokter malah pindah ke herbal. Kalau herbal ya herbal sekalian. Tuntaskan. Karena banyak kasus yang setengah-setengah. Awalnya stadium awal belum tuntas pengobatan di rumah sakit, pindah ke pengobatan herbal nyatanya benjolan malah semakin besar. Akhirnya dia kembali lagi ke dokter awal dengan kondisi yang lebih parah. Tentu dua metode itu ada efek samping masing-masing jadi jangan campurkan efek samping keduanya ke tubuhmu.

5.  Gali informasi sebanyak-banyaknya
Tentunya menjadi pasien penyakit yang cukup tabu di masyarakat kita dilatih untuk menjadi individu yang aktif. Tentunya aktif mendapatkan segala informasi terkait penyakit. Mbak yuni berbagi tips sumber informasi dan pengetahuan mengenai kanker :
a.  Dokter tenaga medis yang berkompeten
b.  Survivor kanker yaitu orang-orang yang tervonis kanker dan berjuang menghadapi kanker
c.  Buku dan media cetak
d.  Televisi dan internet

Saya pribadi awal tervonis kanker, mencari informasi sebanyak-banyaknya pada sesame survivor kanker di ruang tunggu kedokteran nuklir atau ruang tunggu USG karena kebanyakan dari mereka adalah pasien kanker. Selain itu hal yang paling mudah adalah mencari diari penderita kanker di blog-blog atau media sosial. Tak lupa juga membaca perjuangan cancer survivor lain dari buku-buku. Tapi yang paling mudah sebenarnya dari internet karena dengan melihat keseharian penderita kanker lain, saya sangat belajar what to do and don’t, apa yang boleh apa yang tidak.

6.  Kuatkan mental dan Jaga kesehatan
Mental kuat akan membantu segala proses pengobatan dan penyembuhan kanker akan lebih mudah dilakukan. Tentu dengan mendekatkan diri pada Yang Maha pencipta, Allah. Ketika iman kita semakin kokoh tentu kanker tak akan menggoyahkan kita. Hati akan tetap tenang dan pikiran pun akan jernih dalam menghadapi tiap tahap pengobatan. Ketika hati baik maka baiklah seluruh badan begitulah hadits yang pernah saya baca. Ketika hati baik maka tak akan muncul stress yang bisa memicu tumbuh kembangnya kanker.
Setelah mental tentunya yang selanjutnya adalah menjaga kesehatan. Mengubah pola hidup dengan pola hidup yang sehat. Mengombinasi makanan sehat disertai olahraga rutin sehingga pengobatan pun tak akan terganggu dengan pengobatan penyakit lain.

Demikianlah yang dapat dilakukan ketika pertama kali divonis kanker. Tak perlu panik. Salam sehat semoga bermanfaat ya.


Senja Januari



Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

About Me

About Riska

Panggil saja RISKA
Thyroid Cancer Survivor dari Bandung, Indonesia. 24 Y.o. Akuntan di sebuah perusahaan swasta.
Diagnosa Kanker tiroid Papiler tahun 2015 menjalani 2 kali operasi pengangkatan tiroid dan ablasi di RSHS Bandung di tahun yang sama
Ada gangguan tiroid juga? Yuk sini cerita, feel free to share :)
I'm Young but Stronger than CANCER !

Popular Posts

Categories

statistics

Copyright © Curhatan Pejuang Tiroid | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com