Tuesday, March 22, 2016

Hadiah dari sahabatku (Teh Dyna) 24 januari 2016 lalu


Ya Allah, ini kanker ya?

Mungkin begitulah awal-awal mendengar vonis yang ditimpakan kepadaku dulu. Saat itu usiaku masih 21 tahun. Tak pernah terpikirkan jika benjolan di leher yang samar-samar tampak itu akan berujung pada vonis kanker. Kemudian muncul lagi pertanyaan “Ya, Allah kenapa harus aku?” stress hebat, tidak nafsu makan,  melamun hingga menangis tiba-tiba sungguh menjadi keseharianku yang tak banyak orang tau setahun yang lalu. Ya Saat awal-awal usiaku menginjak usia 22 tahun. Berangkat kuliah sepanjang jalan menangis kemudian berubah ceria ketika bertemu dosen dan bercengkrama dengan teman-teman. “Aku selalu mempertanyakan dosa apa yang aku lakukan sehingga harus ditebus dengan kanker……?”

Dulu aku pikir kanker itu musibah. Tapi dengan kasih sayang-Nya, Allah meralat pernyataanku dengan memperlihatkan padaku ketangguhan adik-adik balita yang dengan sabar, ikhlas dan tabah menghadapi kankernya masing-masing. Betapa terpukulnya aku ketika melihat seorang anak 16 bulan dengan tangan dan dada membesar sebelah akibat tumor ganas yang menggogrotinya semenjak bayi. Sudah dioperasi masih saja sebesar paha orang dewasa. atau kisah lain, tentang perjuangan seorang anak belasan tahun yang tangguh berdamai dengan leukemia (Kanker darah). Apa itu salah dia? Salah orang tuanya? Lalu salah siapa?

Nyatanya tak ada yang salah. Kanker itu TAKDIR. Titik. Dan aku selalu percaya Takdir-Nya selalu baik tergantung pada sisi mana kita hendak menjalaninya. Hendak ke sisi penuh kemarahan akan takdir-Nya atau sisi penuh keikhlasan menjemput ridho-Nya? Itu pilihanmu masing-masing. Akhirnya di usiaku sekarang Allah masih saja memberi kekuatan berlebih untuk berdamai dengan kanker. Karena aku tau, tak ada yang benar-benar sembuh dari kanker setelah ia pernah tumbuh di dalam tubuh. Yang ada adalah istirahatnya sel kanker tersebut, dengan mematikan berbagai macam pemicunya, mem-puasa-kan sel-sel kanker, memutuskan pembuluh darah yang tumbuh subur di dalam sel kankernya. Maka jikalau dulu aku memintakan doa kesembuhan pada orang-orang. Kini aku hanya memintakan agar Allah senantiasa menguatkanku untuk semakin bermanfaat untuk banyak orang, diberi kesempatan mengumpulkan bekal akhirat yang tiada putusnya dan mengembalikanku pada kesimpulan terbaik, khusnul khatimah.

Setahun, -kalau tidak salah- aku menyembunyikan dari banyak orang tentang kanker ini. Kenapa? Agar aku tenang, begitu dulu pikirku. Hal ini kulakukan karena awal-awal sebelum memutuskan untuk operasi banyak sekali kanan kiri larangan untuk operasi. Efek sampingnya bisa inilah, itulah, kankernya bisa tumbuh lagilah bahaya buat masa depanlah. Lebih baik herbal aja, lebih sehat, lebih aman, gak banyak efek samping gapapa lama juga yang penting gak ada efek samping ke depan. Gitu katanya. Fix bikin stress parah. Hingga 5 jam sebelum naik meja operasi, otakku masih disesakki dengan larangan dan efek samping yang menghantui. Orang tuaku pun langsung menasehati bahwa niat kita untuk operasi adalah menjaga hak badan, menjaga titipan Allah agar tetap sehat. Jikalau memang sudah waktuny titipan-Nya diambil maka ikhlaskanlah karena Allah. Tak ada yang perlu merasa kehilangan kan? Toh modal utama dalam menghadapinya adalah iman (keyakinan) akan janji-Nya, keyakinan akan takdir baik-Nya, keyakinan atas segala ampunan dan balasan terbaik-Nya. Berbekal hal itulah rasanya terlalu naïf jika masih saja mengeluh. Kami hanya butuh dukungan kami hanya butuh keceriaan dari rekan sekalian. Karena stress merupakan salah satu pemicu “terjadinya” kanker. Karena sungguh tak sanggup rasanya berjuang melawan sakit macam ini sendirian.


Kalau kata dokter onkologiku, kan bagus sekarang sudah punya “alarm” kan? Alarm untuk melakukan ibadah terbaik, alarm untuk menjauhi kemaksiatan, alarm untuk selalu bermanfaat untuk banyak orang. Alarm yang tak dipunyai oleh semua orang, bersyukurlah. Hanya orang-orang pilihan. Sampai akhirnya aku berani mengungkapkan pada khalayak. Hey Aku pejuang kanker tiroid!!!! Aku sehat dan aku fight! Aku tak mau kalah.


Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya                   (QS.Al-Baqarah:286)

Salam,
Senja Januari

Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates & MyBloggerThemes