Hanya cerita sesama pejuang tiroid. Kanker tiroid dan gangguan tiroid lainnya. Jangan kalah jangan menyerah Keputusasaan yang mengalahkanmu Bukan KANKER!

Tuesday, February 28, 2017

Ablasi kecil di RSUP Hasan Sadikin 2017

Assalammualaikum :)
Pagi Kali ini Riska mau sharing pengalaman salah seorang teman pejuang tiroid juga yang kemarin bulan februari 2017 baru saja menjalani terapi ablasi kecil di RSHS Bandung. Namanya Kak Nitzar dari Makassar. Diagnosa hipertiroid sejak tahun 2013.

Kenapa Riska sharing pengalaman Kak Nitzar? Soalnya banyak banget tanya-tanya ke Riska tentang pengalaman ablasi kecil. Hhe sejujurnya yang Riska jalani dulu tahun 2015 itu ablasi besar yang pasti beda prosedur, beda waktu lama terapi dan beda juga biayanya. Jadi, untuk membantu memberi bayangan kepada mbak mas yang mau ablasi kecil di rshs coba Riska bantu sharing ya dari pengalaman beliau.



Jadi ablasi kecil itu gimana? 
Saya sudah sekian tahun hipertiroid, saya sudah sekian tahun berobat saya dari luar kota tapi mau ablasi kecil ke RSHS

Sebelum ke rumah sakit yang dirujuk untuk ablasi kemanapun itu ya gak mesti ke RSHS. Siapkan hasil lab dari kota asal. Minimal seminggu sebelum. Pokoknya hasil lab ter-update. Usahakan sudah komunikasi aktif dengan pihak RSHS ya hanya untuk mengonfirmasi. Tapi ketika sudah sampai di RSHS seperti biasa mengantri dulu di bagian administrasi BPJS pagi sekali di antrian C ya (klinik khusus). Setelah mendapat surat eligibilitas dari bagian pendaftaran umum bisa langsung ke poli kedokteran nuklir gedungnya warna oranye menghadap jalan Pasir Kaliki. Kalau pasien umum bisa langsung mengantri di antrian C namun nanti ketika sudah sampai di mesin antrian ambil antrian E (untuk pasien umum). Tentu antrian pasien umum akan lebih cepat daripada pasien BPJS.

Itu review pendaftaran aja yaa. Kalau untuk proses ablasi kecilnya gimana ka?
Baiklah, cerita kak nitzar pejuang hipertiroid dimulai...
Sesampainya di poli nuklir, langsung diminta untuk cek lab lagi. Hasil yg dibutuhkan ft4, tsh, tsh sensitif. Karena butuh cepat jadi memilih untuk cek di lab prodia depan RSHS. Hasilnya jadi 2 (dua) jam setelah pengambilan darah. Kalau cek pakai BPJS bisa gak? Bisa. Tapi keluar hasilnya lama. Gak worth it sih untuk pasien dari luar kota. Sayang waktu habis.

Okey lanjut, setelah hasil pemeriksaan darah selesai, dilanjut untuk suntik cairan yodium radioaktif dengan dosis sangat kecil biasanya hanya 4 millicuries. Kemudian setelah disuntik langsung masuk ke ruangan CT Scan untuk sidik tiroid. Sidik tiroid ini menurut Ryan  Yudistiro, dr.,SpKN,MKes
"Sidik kelenjar tiroid ini dilakukan untuk menilai aktivitas fungsional dari benjolan maupun pembesaran dari kelenjar tiroid serta dapat juga digunakan untuk mendeteksi jaringan tiroid ektopik dan sisa jaringan tiroid pasca-operasi. Selain itu juga dapat digunakan untuk evaluasi tirotoksikosis/hipertiroid apakah aktif atau tidak aktif."

 "Obat radioaktif yang rutin digunakan untuk pemeriksaan sidik kelenjar tiroid ini adalah I-131, I-123, dan Tc-99m pertechnetate. Untuk I-131 dan I-123 diberikan secara ditelan, sedangkan Tc-99m pertechnetate diberikan secara disuntik melalui intravena. Obat radioanuklida yang paling ideal untuk sidik kelenjar tiroid adalah NaI-123, karena energi dari sinar gammanya yang cukup optimal untuk dilakukan pengambilan gambar dengan kamera gamma atau SPECT, sayangnya obat radioaktif ini belum dapat tersedia di Indonesia."

Sumber: dokternuklir.blogspot.co.id

Oiya, kak nitzar periksa sidik tiroid pakai umum gak pakai BPJS. Kenapa? Soalnya kalau pakai BPJS dapat antriannya seminggu :( yaudah lah ya jadi bayar umum biasa biar cepet katanya. Nah hasil sidik tiroid ini termasuk cepet sekitar 30-40 menit. Setelah itu sekitar 1 (satu) jam kemudian baru dipanggil untuk tetes cairan iodium radioaktifnya. Tetes itu maksudnya dimasukkan secara oral dengan cara diteteskan melalui mulut. Cairan yang diberikan dengan dosis 10 millicuries. oiya pastikan  6 jam sebelumnya gak makan apa-apa (puasa) kecuali minum air putih. Untuk memaksimalkan penyerapan iodium radioaktif itu.
Setelah selesai tetes cairan radioaktif, karena Kak Nitzar matanya sudah agak menonjol jadi dokter memberi resep untuk mata. Buat mata di kasih mthylprednisolon yang harus di konsumsi selama 3 (tiga) minggu. 

Sudah? Sudah!
Selesai alhamdulillah dalam satu hari aja. Tapi seminggu kemudian harus cek lab lagi tapi bisa dikonsultasi  ke dokter onkologi di daerah asal. nah untuk jadwal kontrol pasca ablasi ini biasanya dokter nuklir yang menangani di RSHS akan memberi tahu, terkait apa saja yang harus dikonsultasikan dan jangka waktu berapa bulan harus di cek.

Satu lagi yang tak kalah penting, BIAYA!
Ini untuk perkiraan aja bagi yang mau ablasi kecil di RSHS 2017 ini
  1. Biaya konsultasi dokter spesialis Nuklir 150.000                       
  2. Pemeriksaan darah ft4,tshs dan tsh sensitif di prodia yg di depan poli nuklir itu 855.000 
  3. Pemeriksaan sidik tiroid 750.000 (Pemeriksaan sidik tiroid sbnrnya di tanggung BPJS tapi karena harus tunggu seminggu jadi waktu itu sidik tiroidnya pakai umum aja)
  4. Tetes iodium radioaktif dosis 10 millicuries senilai 3juta (ditanggung BPJS)                        
  5. Obat buat mata 15.000                         
Kalau pakai umum semua ya lumayan keluarnya bisa kira-kira 5 jutaan. Tapi karena ablasinya pakai BPJS jadi keluarnya 1,7 jutaan.


Sekian cerita dari teman seperjuangan, semoga bisa memberi sedikit gambaran. Gak perlu takut untuk ablasi. Lebih baik sehat sejak dini dari menunggu sakit tambah parah di lain hari. Salam sehat :)



Salam,

Senja Januari



 
Reactions:

4 comments:

  1. teh rizka, boleh minta kontak? Saya mau tanya2 soal ablasi di RSHS .
    terimaksih ... :)

    ReplyDelete
  2. boleh banget, bisa langsung kontak aja ke 085723553385 :)

    ReplyDelete
  3. teh, saya juga penderita ca thyroid. baru2 ini saya operasi utk yg ke-2 kalinya . udh 5 thun ternyata hipertiroid saya kambuh lagi. saya berencana utk coba terapi nuklir ke RSHS . mudah2n ada jalan ya utk saya dan saya bisa sembuh . blog nya menginspirasi utk penderita kanker kyk saya

    ReplyDelete
  4. Salam kenal ya, nanti kalau ke RSHS kabar-kabari siapa tau ketemu. Semoga dimudahkan dilancarkan pengobatannya. Segera sehat ya :)

    ReplyDelete

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

About Me

About Riska

Panggil saja RISKA
Thyroid Cancer Survivor dari Bandung, Indonesia. 24 Y.o. Akuntan di sebuah perusahaan swasta.
Diagnosa Kanker tiroid Papiler tahun 2015 menjalani 2 kali operasi pengangkatan tiroid dan ablasi di RSHS Bandung di tahun yang sama
Ada gangguan tiroid juga? Yuk sini cerita, feel free to share :)
I'm Young but Stronger than CANCER !

Popular Posts

Categories

statistics

Copyright © Curhatan Pejuang Tiroid | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com